Selasa, 02 September 2014

senja terakhir



Sekali lagi senja turun di kota itu.
Dan tak seperti biasanya,aku merasa senja kali ini begitu getir,aku tak mau melalui senja ini,tapi aku harus melewatinya,demi kehidupanku selanjutnya.
Aku biasanya menyukai senja dijalan itu,jalan yang berangin daun-daun jatuh disisi jalan,dan dikiri kanan jalan ramai gerobakan penjual aneka makanan nan lezat.
Dia biasanya akan bertanya,”kamu mau makan apa?”
Aku biasanya hanya menjawabnya dengan pelukan,ya memeluknya membuatku melupakan rasa lapar.
Di s ebelah sana,ya disebelah sana biasanya dia akan menggandengku masuk dan menduduki salah satu bangku,memesan menu kesukaanku tanpa diminta,dia selalu tahu.
Lalu tanpa diminta juga,aku menyeka keringat yang mengucur di dahinya,aku juga selalu tahu.
Aku berhenti sejenak,terpaku di jok motorku dengan kaku,menatap warung itu dengan tatapan mata yang kosong,lalu berkata sendiri,”kelak aku melupakan bahwa aku menaruh sebuah kenangan disini,aku akan melupakannya,aku harus lupa,…”
Warung itu sepi,ya kami menyukai warung itu karena sepi,karena kami harus bebas bercengkerama.
Aku menggigit bibir,pelan aku hajar sesak yang tiba-tiba membebani dadaku.
Mengiangkan kata-kata yang diucapkannya,mengulang kembali sakit hati
“kamu itu  anjing,tau anjing?....”
“aku bosan padamu,tubuhku menolakmu,aku tak ingin mendekatimu,aku malas melihatmu,….”

Aku menghela nafas,membiarkan sebutir airmata terjun bebas menggelinding di pipiku.
Aku melihat matahari mulai tergelincir,dengan jelas dapat aku saksikan sinarnya melemah dan meramah,pelan kemudian meredup,seperti sebuah bola bundar yang bersinar,menggantung dilangit dengan gamang.
Kutatap matahari yang mengambang.”mas lihat mataharinya bagus…”
Lalu dia akan menggenggam jemariku yang ku kalungkan di perutnya,dan memegang stang motor dengan tangannya yang lain,dia melakukan itu sepanjang perjalanan agar dapat memegang dan meremas setiap jengkal buku jariku.

Tak seperti semalam,aku sentuh pipinya seperti biasa,tapi dengan kasar dia tepiskan tanganku,seolah virus menempel ditubuhku.
Aku tertegun,tak percaya.

Warung itu  mulai ramai.satu demi satu pelanggan memenuhi kursi,dan sang pemilik menatapku dengan ganjil.seolah bertanya apa yang sedang aku lakukan,apa yang aku inginkan.
Lalu dengan gontai aku nyalakan mesin,memutar roda dengan gamang sekali lagi.

Sepanjang jalan,pikiranku berlari,semakin kencang aku berjalan,semakin kencang pikiranku mendahuluiku pergi.
Aku bertanya pada semua tempat yang aku lewati,”kemana perginya d ia yang dulu pernah membawaku kesini?kemana perginya hari-hari itu?apa yang membuatnya melupakan semua yang ada disini,dijalan yang sekarang aku lewati?”
Semua tempat itu menjawab tanyaku dengan Tanya yang sama.
Aku tak sanggup lagi berjalan,aku tak sanggup lagi mengulang.
Lalu aku tertegun,aku tiba-tiba ada dalam sebuah dinamika acak,kadang semuanya  berjalan lambat,kadang semuanya berjalan cepat,aku terdiam,terpaku,bingung,pergerakan macam apa yang aku lihat.
Dan ketika aku tersadar,aku ternyata berada di jalan itu,jalan yang penuh angin dan ribuan daun jatuh.
Aku ternyata tak bergerak.
Segala kenangan itulah yang berlari mengelilingiku.
Aku tahu,ada beberapa hal  yang tak bisa aku ubah,aku juga sadar ada beberapa hal yang memang harus berubah.

Tapi aku tidak selalu siap mengikuti perubahan itu.
Pernikahanku di tahun pertama,perjumpaanku di tahun kedua,dan luka yang ke s ejuta.
Aku dongak kan kepala,menatap daun yang jatuh satu demi satu.
Ah,
Mungkin ini adalah waktu yang pernah aku katakan dulu,saat ada sebuah ketika  dimana aku terluka dan tak seorangpun yang bisa aku mintai pertanggung jawaban.
Mungkin ini waktunya.
Dia tak bersalah
Aku juga tidak.
Jika mencintainya adalah bagian dari kesalahanku,maka itu adalah sebuah kesalahan tanpa pembenaran.
Jika masuk kedalam kehiddupannya adalah s ebuah disa,maka itu dosaku yang tak terampuni,
Karena aku akan terus melakukannya,aku tak akan meminta pengampunan untuk itu.
Mungkin aku harus mengembalikan apa yang selama ini aku pinjam.
Dan ketika aku melihat jauh ke dalam diriku,rupanya aku sudah mendapatkan sangat banyak.
Aku menatap kembali ke   jalan penuh angin dan berdebu itu.
Sebuah lengkungan ku tarik dari sudut bibir,aku tersenyum
Selamat tinggal,…aku tak akan pernah melewatimu lagi berangin,……