Sekali lagi
senja turun di kota itu.
Dan tak
seperti biasanya,aku merasa senja kali ini begitu getir,aku tak mau melalui
senja ini,tapi aku harus melewatinya,demi kehidupanku selanjutnya.
Aku biasanya
menyukai senja dijalan itu,jalan yang berangin daun-daun jatuh disisi jalan,dan
dikiri kanan jalan ramai gerobakan penjual aneka makanan nan lezat.
Dia biasanya
akan bertanya,”kamu mau makan apa?”
Aku biasanya
hanya menjawabnya dengan pelukan,ya memeluknya membuatku melupakan rasa lapar.
Di s ebelah
sana,ya disebelah sana biasanya dia akan menggandengku masuk dan menduduki
salah satu bangku,memesan menu kesukaanku tanpa diminta,dia selalu tahu.
Lalu tanpa
diminta juga,aku menyeka keringat yang mengucur di dahinya,aku juga selalu
tahu.
Aku berhenti
sejenak,terpaku di jok motorku dengan kaku,menatap warung itu dengan tatapan
mata yang kosong,lalu berkata sendiri,”kelak
aku melupakan bahwa aku menaruh sebuah kenangan disini,aku akan
melupakannya,aku harus lupa,…”
Warung itu
sepi,ya kami menyukai warung itu karena sepi,karena kami harus bebas
bercengkerama.
Aku menggigit
bibir,pelan aku hajar sesak yang tiba-tiba membebani dadaku.
Mengiangkan kata-kata
yang diucapkannya,mengulang kembali sakit hati
“kamu
itu anjing,tau anjing?....”
“aku bosan
padamu,tubuhku menolakmu,aku tak ingin mendekatimu,aku malas melihatmu,….”
Aku menghela
nafas,membiarkan sebutir airmata terjun bebas menggelinding di pipiku.
Aku melihat
matahari mulai tergelincir,dengan jelas dapat aku saksikan sinarnya melemah dan
meramah,pelan kemudian meredup,seperti sebuah bola bundar yang
bersinar,menggantung dilangit dengan gamang.
Kutatap matahari
yang mengambang.”mas lihat mataharinya
bagus…”
Lalu dia
akan menggenggam jemariku yang ku kalungkan di perutnya,dan memegang stang
motor dengan tangannya yang lain,dia melakukan itu sepanjang perjalanan agar
dapat memegang dan meremas setiap jengkal buku jariku.
Tak seperti
semalam,aku sentuh pipinya seperti biasa,tapi dengan kasar dia tepiskan
tanganku,seolah virus menempel ditubuhku.
Aku tertegun,tak
percaya.
Warung itu mulai ramai.satu demi satu pelanggan memenuhi
kursi,dan sang pemilik menatapku dengan ganjil.seolah bertanya apa yang sedang
aku lakukan,apa yang aku inginkan.
Lalu dengan
gontai aku nyalakan mesin,memutar roda dengan gamang sekali lagi.
Sepanjang jalan,pikiranku
berlari,semakin kencang aku berjalan,semakin kencang pikiranku mendahuluiku
pergi.
Aku bertanya
pada semua tempat yang aku lewati,”kemana
perginya d ia yang dulu pernah membawaku kesini?kemana perginya hari-hari
itu?apa yang membuatnya melupakan semua yang ada disini,dijalan yang sekarang
aku lewati?”
Semua tempat
itu menjawab tanyaku dengan Tanya yang sama.
Aku tak
sanggup lagi berjalan,aku tak sanggup lagi mengulang.
Lalu aku
tertegun,aku tiba-tiba ada dalam sebuah dinamika acak,kadang semuanya berjalan lambat,kadang semuanya berjalan
cepat,aku terdiam,terpaku,bingung,pergerakan macam apa yang aku lihat.
Dan ketika
aku tersadar,aku ternyata berada di jalan itu,jalan yang penuh angin dan ribuan
daun jatuh.
Aku ternyata
tak bergerak.
Segala kenangan
itulah yang berlari mengelilingiku.
Aku tahu,ada
beberapa hal yang tak bisa aku ubah,aku
juga sadar ada beberapa hal yang memang harus berubah.
Tapi aku
tidak selalu siap mengikuti perubahan itu.
Pernikahanku
di tahun pertama,perjumpaanku di tahun kedua,dan luka yang ke s ejuta.
Aku dongak
kan kepala,menatap daun yang jatuh satu demi satu.
Ah,
Mungkin ini
adalah waktu yang pernah aku katakan dulu,saat ada sebuah ketika dimana aku terluka dan tak seorangpun yang
bisa aku mintai pertanggung jawaban.
Mungkin ini
waktunya.
Dia tak
bersalah
Aku juga
tidak.
Jika mencintainya
adalah bagian dari kesalahanku,maka itu adalah sebuah kesalahan tanpa
pembenaran.
Jika masuk
kedalam kehiddupannya adalah s ebuah disa,maka itu dosaku yang tak terampuni,
Karena aku
akan terus melakukannya,aku tak akan meminta pengampunan untuk itu.
Mungkin aku
harus mengembalikan apa yang selama ini aku pinjam.
Dan ketika
aku melihat jauh ke dalam diriku,rupanya aku sudah mendapatkan sangat banyak.
Aku menatap
kembali ke jalan penuh angin dan
berdebu itu.
Sebuah lengkungan
ku tarik dari sudut bibir,aku tersenyum
Selamat tinggal,…aku
tak akan pernah melewatimu lagi berangin,……